Info InfoCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
general

Mencari Info di Media Sosial: Antara Cepat dan Akurat

Fenomena info viral di grup WhatsApp dan media sosial. Kenapa kita lebih percaya broadcast daripada artikel? Tips verifikasi sederhana.

7 May 2026 · 2 menit baca · oleh Widya Hasibuan
Mencari Info di Media Sosial: Antara Cepat dan Akurat

Beberapa hari lalu, saya nemu broadcast WhatsApp soal lowongan kerja di perusahaan besar. Gajiny gede, syaratnya ringan. Dalam hitungan jam, pesan itu menyebar ke mana-mana. Ternyata hoaks. Nomor yang tertera malah mengarah ke link mencurigakan. Kejadian kayak gini bukan baru pertama kali. Di Pulaudeli, grup ibu-ibu RT sampai grup arisan sering jadi ladang info yang belum jelas kebenarannya. Fenomena ini bikin saya mikir: kenapa kita lebih gampang percaya info dari broadcast daripada artikel resmi?

Kenapa Info Broadcast Lebih Cepat Viral?

Faktor kepercayaan bikin info dari kenalan terasa lebih aman. Kita ogah dibilang ketinggalan zaman, jadinya forward aja tanpa mikir panjang. Ditambah format broadcast pendek dan to the point. Nggak perlu buka halaman berat, cukup bca dua baris di layar. Kebiasaan ini makin kuat sejak media sosial menggantikan peran portal berita. Saya lihat sendiri, banyak temen di Pulaudeli lebih sering scroll TikTok atau Instagram buat cari info soal kesehatan, resep masakan, sampai hukum. Padahal sumbernya sering akun personal tanpa otoritas.

Dampaknya, literasi digital kita jadi tumpul. Menurut data Kominfo tahun lalu, lebih dari 60 persen hoaks yang beredar berasal dari platform percakapan. Situasi ini diperparah dengan algoritma yang lebih suka konten emosional daripada faktual. Akibatnya, info yang bikin panik atau gemas lebih cepat menyebar daripada info yang netral.

Untungnya, ada cara sederhana buat filter. Sebelum forward, cek dulu domain sumbernya. Kalau dari website abal-abal, jangan langsng percaya. Bandingkan dengan berita dari Kompas atau Tempo. Kalau perlu, buka Wikipedia buat cari definisi atau latar belakang isu. Proses ini nggak butuh waktu lama, cuma butuh kebiasaan. Saya sendiri mulai terapin beberapa bulan lalu dan rasanya lebih tenang karena nggak gampang termakan info palsu.

Pada akhirnya, mencari info di era serba cepat memang menantang. Tapi kita bisa pilih jadi penerima yang kritis. Mulai dari hal kecil: tahan jempol sebelum nge-share, baca dulu isinya, cocokkan dengan sumber resmi. Dengan begitu, grup WhatsApp kita bisa jadi tempat berbagi info yang benar-benar berguna, bukan ladang hoaks.

Referensi: sumber resmi

Tag: #info #media-sosial #literasi-digital #hoaks